Monday, 21 September 2015


Cita-citaku
By Elviyasa Siregar
Tak pernah sedikitpun terbesit dibenakku bahwa kelak aku akan menjadi seorang guru, seorang penuntun yang membawa cahaya bagi anak bangsa yang haus akan ilmu pengetahuan. Beginilah hidup, sebuah ketidak sengajaan mengantarku menjadi aku yang sekarang, walau belum memenuhi target sukses seorang guru sesungguhnya. Namun setidaknya aku pernah mengecap manisnya panggilan hangat ‘Bu guru’ dari ratusan siswa siswi sekolah dasar yang jiwanya dipenuhi gairah dan semangat belajar.
Delapan tahun yang lalu tepatnya saat aku tengah duduk dibangku kelas satu sekolah menengah pertama, aku telah membuat janji pada diriku sendiri bahwa kelak aku akan menjadi seorang pemandu wisata yang handal, membawa serta para warga asing keliling daerah untuk sekedar menikmati indahnya surga di negeriku Indonesia. Hari demi hari hatiku tak pernah sedikitpun melupakan cita-cita indahku itu, setiap kali menikmati tayangan televisi yang menyuguhkan keindahhan alam negeriku maka tanpa ultimatum sekujur tubuhku merinding pertanda betapa wisata merupakan detak nadiku, aku sungguh ingin menikmati alam, mengelilingi dunia tanpa harus mengeluarkan banyak uang. Maka dari itu aku memilih menjadi seorang pemandu wisata, sebuah pekerjaan halal yang mampu menghasilkan sensasi kepuasan batinku.
Akan tetapi aku tak tahu sejak kapan haluanku berubah, aku tersadar ketika aku tengah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi dengan jurusan pendidikan program studi Bahasa Inggris. Aku tak ingin mengingat masa lalu namun aku juga tak ingin mengabaikan masa depanku, bagaimana mungkin profesi pemandu wisata yang selama ini aku idam-idamkan bergeser menjadi guru. Walau ku akui profesi guru tidaklah memalukan, namun aku harus sadar bahwa aku bukanlah tipikal orang yang mampu memberi penjelasan secara detil pada siswa maupun siswi yang berguru kepadaku. Aku tak memiliki keahlian berbicara panjang lebar dikelas, aku bahkan bukan tipikal orang yang suka menghafal teori, seorang guru tanpa semangat belajar apakah ia mampu mengajar anak bangsa kelak?
Lama sekali aku bergulat dengan diriku yang lain saat itu, rasanya ingin sekali segera mengakhiri jenjang pendidikan yang tengah kutempuh. Aku merasa ini bukan yang kumau. Lambat laun aku sadar bahwa aku harus selalu menjunjung tinggi rasa tanggung jawab dalam diriku, aku harus belajar menjadi apa yang telah kuputuskan. Aku harus mengubur dalam-dalam impianku saat itu.
Hingga suatu saat aku belajar menikmati alunan lembut pembelajaran keguruan yang aku tempuh. Semua rasa kecewa yang pernah tumbuh subur dalam hatiku lambat laun terkikis karena rasa takjubku pada bidang ini, aku jatuh cinta pada duniaku ini. Aku ingin belajar, aku ingin mengetahui seluruh ilmu yang digali para orang-orang terdahulu, aku ingin menciptakan sesuatu yang dapat membantu memajukan bangsa ini. Akhirnya aku sadar inilah cita-cita masa depanku. Kini aku telah berusia dua puluh satu tahun, usia yang cukup dewasa untuk seorang gadis sepertiku, pandanganku kini tak lagi tertuju untuk menikmati cantiknya alam semesta melainkan aku ingin melanjutkan cita-cita ibu bangsaku Kartini, membimbing anak bngsa untuk memajukan negeri ini tanpa memandang laki-laki atau perempuan. Bismillah semoga aku mampu konsisten dengan jalanku saat ini.

No comments:

Post a Comment