Cita-citaku
By Elviyasa Siregar
Tak
pernah sedikitpun terbesit dibenakku bahwa kelak aku akan menjadi seorang guru,
seorang penuntun yang membawa cahaya bagi anak bangsa yang haus akan ilmu
pengetahuan. Beginilah hidup, sebuah ketidak sengajaan mengantarku menjadi aku
yang sekarang, walau belum memenuhi target sukses seorang guru sesungguhnya.
Namun setidaknya aku pernah mengecap manisnya panggilan hangat ‘Bu guru’ dari
ratusan siswa siswi sekolah dasar yang jiwanya dipenuhi gairah dan semangat
belajar.
Delapan
tahun yang lalu tepatnya saat aku tengah duduk dibangku kelas satu sekolah
menengah pertama, aku telah membuat janji pada diriku sendiri bahwa kelak aku
akan menjadi seorang pemandu wisata yang handal, membawa serta para warga asing
keliling daerah untuk sekedar menikmati indahnya surga di negeriku Indonesia.
Hari demi hari hatiku tak pernah sedikitpun melupakan cita-cita indahku itu,
setiap kali menikmati tayangan televisi yang menyuguhkan keindahhan alam
negeriku maka tanpa ultimatum sekujur tubuhku merinding pertanda betapa wisata
merupakan detak nadiku, aku sungguh ingin menikmati alam, mengelilingi dunia
tanpa harus mengeluarkan banyak uang. Maka dari itu aku memilih menjadi seorang
pemandu wisata, sebuah pekerjaan halal yang mampu menghasilkan sensasi kepuasan
batinku.
Akan
tetapi aku tak tahu sejak kapan haluanku berubah, aku tersadar ketika aku
tengah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi dengan jurusan pendidikan
program studi Bahasa Inggris. Aku tak ingin mengingat masa lalu namun aku juga
tak ingin mengabaikan masa depanku, bagaimana mungkin profesi pemandu wisata
yang selama ini aku idam-idamkan bergeser menjadi guru. Walau ku akui profesi
guru tidaklah memalukan, namun aku harus sadar bahwa aku bukanlah tipikal orang
yang mampu memberi penjelasan secara detil pada siswa maupun siswi yang berguru
kepadaku. Aku tak memiliki keahlian berbicara panjang lebar dikelas, aku bahkan
bukan tipikal orang yang suka menghafal teori, seorang guru tanpa semangat
belajar apakah ia mampu mengajar anak bangsa kelak?
Lama
sekali aku bergulat dengan diriku yang lain saat itu, rasanya ingin sekali
segera mengakhiri jenjang pendidikan yang tengah kutempuh. Aku merasa ini bukan
yang kumau. Lambat laun aku sadar bahwa aku harus selalu menjunjung tinggi rasa
tanggung jawab dalam diriku, aku harus belajar menjadi apa yang telah
kuputuskan. Aku harus mengubur dalam-dalam impianku saat itu.
Hingga
suatu saat aku belajar menikmati alunan lembut pembelajaran keguruan yang aku
tempuh. Semua rasa kecewa yang pernah tumbuh subur dalam hatiku lambat laun
terkikis karena rasa takjubku pada bidang ini, aku jatuh cinta pada duniaku
ini. Aku ingin belajar, aku ingin mengetahui seluruh ilmu yang digali para
orang-orang terdahulu, aku ingin menciptakan sesuatu yang dapat membantu
memajukan bangsa ini. Akhirnya aku sadar inilah cita-cita masa depanku. Kini
aku telah berusia dua puluh satu tahun, usia yang cukup dewasa untuk seorang
gadis sepertiku, pandanganku kini tak lagi tertuju untuk menikmati cantiknya
alam semesta melainkan aku ingin melanjutkan cita-cita ibu bangsaku Kartini,
membimbing anak bngsa untuk memajukan negeri ini tanpa memandang laki-laki atau
perempuan. Bismillah semoga aku mampu konsisten dengan jalanku saat ini.
No comments:
Post a Comment